Payango.id Boalemo – Langit di atas Kabupaten Boalemo masih menyimpan kilau harapan. Di balik hamparan bukit dan lembahnya, tersembunyi emas yang sejak lama menjadi daya tarik sekaligus dilema bagi masyarakat setempat. Mereka yang menggantungkan hidup pada tambang emas tanpa izin—atau yang akrab disebut PETI—kini tengah menunggu kepastian. Antara ingin hidup layak dan takut dipenjara.
Salah satu suara paling lantang datang dari Abdul Majid Rahman. Ia bukan hanya dikenal sebagai Ketua Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Boalemo, tetapi juga mantan jurnalis yang pernah memimpin Aliansi Jurnalis Boalemo. Kini, ia lebih banyak berdiri di tengah masyarakat penambang, menyuarakan keresahan dan harapan mereka.
“Sudah saatnya semua pihak duduk bersama. Ini bukan soal ilegal atau tidak, ini soal hidup orang banyak yang butuh kejelasan,” ucap Majid, matanya menatap tajam ke kejauhan, seolah melihat masa depan yang masih samar.
Menurutnya, jika PETI terus dibiarkan tanpa solusi, maka akan terus menjadi lahan empuk bagi oknum-oknum yang mencari untung sesaat. Ia menegaskan, masyarakat kerap hanya diberi janji jaminan keamanan, namun pada akhirnya justru menjadi korban pemerasan bahkan kriminalisasi.
“Mohon maaf, rakyat jangan terus-menerus jadi sapi perah. Hari ini dijanjikan perlindungan, besok malah diborgol,” tegas Majid dengan nada getir.
Majid mendesak agar pemerintah segera menetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Menurutnya, langkah legalisasi tambang rakyat bukan sekadar regulasi, tetapi bentuk keberpihakan nyata terhadap nasib rakyat kecil.
“Kalau dikelola dengan baik, tambang rakyat bisa jadi berkah. Ada lapangan kerja, ada perputaran ekonomi, bahkan bisa jadi sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah),” ujarnya penuh keyakinan.
Bagi Majid, Boalemo punya potensi untuk menjadi percontohan pertambangan rakyat yang sehat, aman, dan berkelanjutan. Bukan hanya cerita konflik sosial, polusi, atau kriminalisasi yang mencoreng citra daerah.
“Semoga Boalemo bukan dikenal karena tambang ilegalnya, tapi karena keberhasilannya membina tambang rakyat yang benar,” pungkasnya, penuh harap.
Di balik suara-suara masyarakat seperti Majid, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan dan ketidakpastian. Tapi mereka percaya, selama masih ada harapan, Boalemo bisa berubah. Dari tanah yang kaya, menjadi daerah yang sejahtera—asal ada kemauan untuk membuka jalan yang legal, aman, dan manusiawi.


















