Breaking News
Ingin jangkau lebih banyak pelanggan? Pasang iklan sekarang! Hubungi kami di No. Telpon/SMS/WhatsApp di 0812 4346 0159. Kami siap membantu mempromosikan bisnis Anda dengan efektif!
Mabar Kriminal
Mabar Kriminal

Bubur Sada dari Boalemo: Dari Dapur Tradisi Menuju Panggung Warisan Budaya Nasional

Payango.id | Jakarta — Di tengah gemerlap ibu kota, di sebuah ballroom megah Hotel Sutasoma, Dharmawangsa, Jakarta Selatan, aroma kebudayaan dari seluruh penjuru nusantara seolah berpadu menjadi satu. Di sanalah, selama empat hari penuh, berlangsung Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia Tahun 2025, ajang nasional yang mempertemukan para maestro, pemerhati budaya, dan perwakilan dinas kebudayaan dari setiap provinsi di Indonesia.

Namun di antara deretan nama besar dan tradisi yang datang dari berbagai daerah, ada satu kisah sederhana namun sarat makna dari ujung Gorontalo — kisah tentang “Bubur Sada”, kuliner khas Kabupaten Boalemo yang kini melangkah menuju pengakuan nasional.

Duduk tenang di barisan peserta, Abd Faris Babuta, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Boalemo, membawa misi yang tak sekadar administratif. Ia datang dengan hati — membawa cerita, rasa, dan nilai yang terkandung dalam semangkuk bubur yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Boalemo sejak dahulu.

“Bubur Sada bukan hanya sekadar makanan, tetapi bagian dari identitas dan kearifan lokal masyarakat Boalemo. Ia hadir dalam berbagai ritual adat dan menjadi simbol kebersamaan serta gotong royong,” tutur Abd Faris dalam pemaparannya di hadapan Majelis Sidang WBTB Indonesia yang terdiri dari 19 orang tim ahli budaya.

Bubur Sada, dengan bahan-bahan sederhana yang berpadu dalam kelembutan rasa, menyimpan filosofi mendalam. Di setiap sendoknya, terselip pesan tentang persatuan, tentang tangan-tangan yang bekerja bersama dalam setiap upacara adat dan perayaan desa.

“Kami membawa Bubur Sada ke forum nasional ini dengan harapan agar kuliner khas Boalemo ini dapat diakui dan dilestarikan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Ini bukan hanya tentang makanan, tapi tentang warisan leluhur yang harus dijaga generasi ke generasi,” lanjutnya dengan nada penuh keyakinan.

Majelis Sidang menanggapi usulan tersebut dengan apresiasi yang hangat. Mereka menilai bahwa keunikan Bubur Sada belum ditemukan di daerah lain di luar Provinsi Gorontalo, sekaligus menjadi representasi penting dalam upaya menjaga eksistensi budaya lokal yang kini kian tergerus oleh zaman.

Sidang yang berlangsung hingga malam hari itu pun menjadi momen bersejarah bagi Boalemo. Di balik layar megah Jakarta, hadir semangat dari tanah yang jauh di utara Sulawesi — semangat yang mengingatkan bahwa budaya tak hanya hidup di panggung, tapi juga di hati orang-orang yang menjaganya.

“Kami berkomitmen untuk terus memperjuangkan pelestarian budaya Boalemo. Mudah-mudahan Bubur Sada dapat menjadi salah satu kebanggaan Gorontalo di pentas budaya nasional,” pungkas Abd Faris Babuta, menutup kisahnya dengan senyum optimis.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *