Breaking News
Ingin jangkau lebih banyak pelanggan? Pasang iklan sekarang! Hubungi kami di No. Telpon/SMS/WhatsApp di 0812 4346 0159. Kami siap membantu mempromosikan bisnis Anda dengan efektif!
Mabar Kriminal
Mabar Kriminal
News  

Pancasila, Cerita yang Memeluk Indonesia: Pesan Ketua Eka di Hari Lahir Pancasila

Payango.id Boalemo – Pada sebuah pagi yang diselimuti semangat merah putih, Lapangan Alun – alun Tilamuta terdengar riak riak pemimpin Upacara, Hadiri Upacara Ketua Eka berdiri tegak. Di tengah semilir angin peringatan Hari Lahir Pancasila Senin, 5 Juni 2025.

Saat disambangi, suaranya lantang namun hangat. Ia tidak sekadar berbicara tentang tanggal dan upacara, tapi tentang sebuah kisah lama—kisah tentang Indonesia yang disatukan oleh sesuatu yang tak terlihat, namun sangat dirasa, yakni : Pancasila.

“Kita harus bersyukur, karena yang mampu mempersatukan kita adalah Pancasila,” ucapnya. Kalimat itu mengalir seperti doa—menguatkan siapa pun yang mendengarnya.

Di tengah keberagaman suku, bahasa, dan agama, Eka menegaskan bahwa hanya Pancasila yang sanggup menjadi benang merah yang menjahit robek-robek perbedaan. Ia tidak sedang membacakan pidato. Ia sedang bercerita, tentang sesuatu yang telah menjaga Indonesia tetap berdiri sejak awal.

“Ideologi inilah yang memperkuat bangsa kita. Suatu bangsa yang tidak mempunyai ideologi, maka tidak akan bertahan lama,” lanjutnya, sembari mengingatkan bahwa sejarah dunia telah memberi banyak bukti akan hal itu.

Ia juga mengungkapkan bagaimana Pancasila yang dahulu hanya diperingati sebatas formalitas, kini disambut dengan upacara penuh hormat. “Di zaman Orde Baru, peringatan Pancasila tidak ada upacaranya. Baru sekarang kita mengupacarakan. Ini bentuk penghargaan,” jelasnya, tersenyum tipis.

Bagi Eka, tiap sila dalam Pancasila bukan sekadar rangkaian kata, melainkan petunjuk jalan. “Mulai dari sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, hingga sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, semua mengandung makna dalam. Kita tidak cukup hanya memperingati, tapi harus memaknainya.

”Cerita Ketua Eka pun membawa hadirin sejenak melompat ke masa lalu. Ia mengisahkan percakapan Bung Karno dengan perwakilan negara Yugoslavia. Ketika mereka membanggakan kekuatan militer dan perlengkapan perang, Sukarno hanya tersenyum.

“Kami hanya punya Pancasila,” kata Bung Karno saat itu.

Dan nyatanya, kata Eka, keyakinan Bung Karno itu masih bergema hingga hari ini. Indonesia tetap tegak. Bukan karena senjata, tapi karena nilai. Karena Pancasila.

“Dibuktikan sampai hari ini kita masih kuat,” pungkasnya.

Dalam momen penuh makna itu, Ketua Eka tidak hanya mengingatkan tentang pentingnya ideologi. Ia membangkitkan kesadaran, bahwa Indonesia besar bukan karena seragam yang sama, tapi karena hati yang sepakat—di bawah naungan lima sila yang sederhana, namun agung.(*) Kidd

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *